Rabu, 04 Desember 2013

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERILAKU
PERILAKU AGONISTIK IKAN CUPANG (Betta splendens)
Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Logo UIN Bandung.png

Disusun oleh :
                                       Nama                                    : Fifin Nurcholis
                                       NIM                                     : 1211702026
Dosen                                   : Ucu Julita M,Si
Asisten                                 : Dewi Yulinda
                                       Tanggal Praktikum               : 26 November 2013 
Tanggal Laporan                  : 2 Desember 2013


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman untuk memahami hewan telah membuat etologi topik yang berkembang pesat, dan sejak pergantian abad ke-21, sebelum pemahaman yang terkait dengan berbagai bidang seperti komunikasi hewan, menggunakan nama pribadi simbolis, hewan emosi, budaya hewan,belajar,dan bahkan seksual telah dipahami dengan baik.  Dengan demikian, mempelajari perilaku ikan. Pada ikan cupang (Betta Splendens) merupakan salah satu aspek penting untuk dipahami dalam hal permodelan dalam perilaku agonistik.
Perilaku agonistik merupakan salah satu bentuk konflik yang menunjukkan perilaku atau postur tubuh atau penampilan yang khas (display) yang melibatkan mengancam (threat), perkelahian (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) antarindividu dalam populasi atau antarpopulasi. Populasi untuk mengetahui perilaku agonistik ini digunakanlah ikan cupang adu sebagai hewan uji. Pada ikan cupang adu (Betta splendens) merupakan jenis ikan laga, individu jantan yang dapat sangat agresif terhadap jantan lainnya dalam sebuah arena bertarung. Dengan adanya akuarium sebagai media bertarung, maka diharapkan dapat dengan mudah diamati perilaku agonistik diantara ikan cupang.
Menganalisis perilaku memerlukan pengamatan yang tajam dan kesabaran yang tinggi. Pergerakan-pergerakan harus dijelaskan, dikategorikan dan dipetakan sebelum fungsi perilaku tersebut dipastikan. Apa yang mungkin terlihat sebagai pergerakan yang acak, tidak berhubungan, mungkin sebenarnya cocok pada suatu pola yang didesain untuk membantu reproduksi, nutrisi, atau beberapa fungsi hidup penting lainnya untuk sintas. Bagi etolog-etolog profesional, analisis suatu perilaku hewan bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, tetapi disini kita hanya melakukan sebagian kecil dari suatu perilaku kompleks yang diamati oleh para etolog tersebut.



1.2  Tujuan
Untuk mengetahui adanya perilaku agonistic pada masing-masing individu ikan cupang (Betta splendens).

1.3  Hipotesis
Adanya perilaku agonistic pada ikan cupang (Betta splendens), baik pada ikan cupang adu maupun ikan cupang hias.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Setiap organisme memiliki kemampuan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang biak pada habitat yang sesuai dengannya. Salah satu cara untuk  mempertahankan hidupnya adalah dengan mempertahankan perilaku keseharian pada saat musim berbiak. Faktor yang sangat menentukan perilaku ini di antaranya habitat tempat tinggalnya meliputi keamanan dan ketersediaan sumber daya hayati yang dapat mendukung kelestariannya terutama pada saat berbiak, di mana organisme membutuhkan keamanan dan ketersediaan makanan lebih baik dibandingkan pada saat tidak memasuki musim berbiak. Perilaku harian organisme merupakan faktor yang berasal dari hewan itu sendiri. Setiap hewan memiliki karakter perilaku harian yang berbeda sesuai anatomi dan morfologi tubuh yang dimilikinya (Jumilawatyi, 2001).
Perilaku merupakan tindakan atau suatu tingkah laku yang dipengaruhi oleh otot ataupun kelenjar yang berada dibawah kontrol sistem syaraf,dan komunikasi sel dari sel otak menuju system syaraf serta merupakan bentuk respon atau tindakan yang dipengaruhi oleh suatu lingkungan. Apabila disimpulkan, perilaku merupakan sejumlah respon makhluk hidup terhadap rangsangan internal ataupun eksternal lingkungan (Kikkawa, 1974). Agonistik (dari bahasa Yunani, yang berarti "juara") didefinisikan sebagai perilaku hewan yang dipamerkan selama, kontes pertempuran, serangan, melarikan diri, ataukeberadaan  diantara dua hewan. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan perilaku Betta splenden, perilaku yang ditunjukkan oleh hewan jantan saat mereka bersaing untuk kawin, peluang dengan betina (Sheenan, 2010).
Perilaku agonistik adalah perilaku yang berhubungan dengan konflik, termasuk berkelahi (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) (Lehner, 1996). Perilaku agonistik meliputi pula beragam ancaman atau perkelahian yang terjadi antar individu dalam suatu populasi (Campbell et al, 2003). Perilaku agonistik berkaitan erat dengan agresivitas, yaitu kecenderungan untuk melakukan serangan atau perkelahian (Scott, 1969). Bentuk-bentuk perilaku tersebut dapat berupa postur tubuh maupun gerakan yang diperlihatkan oleh individu pemenang maupun individu yang kalah dalam kontes perkelahian. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat) (Kikkawa & Thorne, 1974).
Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat). Populasi untuk mengetahui perilaku agonistik ini digunakanlah ikan cupang adu sebagai hewan uji. Cupang adu (Betta splendens) merupakan jenis ikan laga; individu jantan dapat sangat agresif terhadap jantan lainnya dalam sebuah arena bertarung. Dengan adanya akuarium sebagai media bertarung, maka diharapkan dapat dengan mudah diamati perilaku agonistik diantara ikan cupang jantan perkelahian (Kikkawa, 1974).       
Ikan Betta splendens merupakan ikan yang memiliki banyak bentuk (Polimorphisme), seperti ekor bertipe mahkota crown tail, ekor penuh full tail dan bertipe slayer, dengan sirip panjang dan berwarna-warni. Keindahan bentuk sirip dan warna sangat menentukan nilai estetika dan nilai komersial ikan cupang Betta splendens Menurut Kottelat (1996) mengatakan bahwa penampakan warna pada jenis ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis kelamin, kematangan gonad, genetik dan faktor geografi. Ikan hias Betta splendens disebut juga ikan laga fighting fish atau ikan cupang. Ikan jantan memiliki warna mencolok, sirip panjang dan ukuran tubuh lebih kecil dibanding betinanya. Ikan Betta splendens jantan memiliki nilai komersial tinggi sehingga sangat disukai dan diburu oleh pecinta ikan hias. Salah satu kendala budidayanya adalah untuk mendapatkan ikan jantan cenderung lebih sukar, karena jumlah benih jantan yang diperoleh setiap pemijahan sangat rendah dan kualitasnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Agar produksi benih ikan sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang diharapkan, diperlukan informasi dan data tentang aspek biologi reproduksi ikan. Betta splendens atau yang lebih dikenal dengan  nama  ikan cupang. Ikan jantan sangat agresif dan memiliki kebiasaan  saling  menyerang  apabila ditempatkan  dalam satu wadah (Ostrow, 1989).
Baik secara instinktif maupun perilaku terlatih, ikan cupang (Betta splendens) memiliki karakteristik respon agresif. Dalam suhu air kira-kira antara 24-29oC, ikan cupang secara normal merupakan ikan yang berperikau sangat aktif. Terdapat sepuluh perilaku agonistik yang dapat dideskripsikan, yaitu menjelajah (explore), mendekati (approach), bergerak memutar (circle), mengancam dari samping (side threat), mengancam dari depan (frontal threat), mengibaskan ekor (tail flagging), mengejar (chase), kontak mulut (mouth-to mouth contact), menggigit (bite), dan melarikan diri (flight) (Campbell et al., 2003 dan Lehner, 1996).
Betta splendens jantan berjuang untuk mengklaim wilayah, atau untuk melindungi telur mereka atau keturunan dari pesaing jantan lain. Tapi pertempuran fisik selalu didahului oleh tampilan kadang-kadang disebut "flaring". Ketika dirangsang oleh penampilan ikan jantan saingan, seekor Betta splendens jantan akan menunjukkan beberapa jenis secara genetis ditentukan agresif gerakan (pola aksi tetap). Ikan akan mengibaskan sirip nya, bergidik tubuhnya, memperpanjang gill opercula dan membran, dan umumnya akan tampil jauh lebih besar dari ukuran biasanya. Betta splendens tidak mengenali diri mereka dalam cermin, dan akan menunjukan perilaku agresif, mengira refleksi mereka sebagai ikan jantan yang lain (Sheenan, 2010).
Ikan cupang jantan, memiliki sifat daya perhatiannya terhadap ikan cupang betina cukup tinggi. Sinyal yang ditimbulkan saat ikan cupang jantan berhadapan dengan ikan cupang betina, yaitu dengan mengibaskan ekor sirip dengan frekuensi yang cepat (McGregor et al., 2001 ). Keagresifan lain pada ikan cupang ini, dipisahkan menjadi appetitive, kawin dan pasca kawin (Klein, Figler and Peek, 1976). Komponen yang appetitive ini, ditandai dengan perilaku kejenuhan warna tubuh, ereksi penutup overculum, atau insang, orientasi dan gerakan karakteristik (Simpson, 1968). Komponen termasuk menggigit, mengunci rahang antara lawan dan mencolok ekor. Respon yang ditunjukan oleh ikan cupang dari tiap individu, yang berkaitan dengan pembuahan, dapat kita amati dengan uji menggunakan model subjek dalam aquarium yang diberi sekat cermin. Dengan memperhitungkan durasi, dan frekuensi demonstrasi merupakan presiktor dan perkelahian yang nyata (McGregor et al., 2001 ).






BAB III
METODE KERJA
3.1  Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini dengan judul perilaku agonistic pada ikan cupang kami sesuai dengan judul memakai ikan cupang atau Betta splendens sebagai spesies uji. Sebagai tempat penyimpanannya kami menyediakan aquarium berukuran 45 x 25 m yang sudah diisi dengan air. Cermin sebagai alat pengamat perilaku pada ikan cupang. Botol botol kecil yang digunakan untuk menyimpan sementara ikan cupang individu. Stopwatch untuk penanda waktu dan alat penanda sebagai penanda.

3.2  Cara Kerja
1.      Pengamatan morfologi
·   Amati masing-masing individu ♂ ikan cupang adu.
·   Kenali dan catat perbedaan fisik, antara lain warna tubuh, bentuk sirip (dada, punggung, perut, dubur, ekor) dan ciri khas lainnya (mulut, operculum, gurat sisi, bentuk tubuh) tiap individu ♂.
2.      Persiapan dan tagging. Aquarium yang telah berisi air ± 3/4 bagian dibagi menjadi dua bagian oleh sebuah cermin sekat pemisah sebagai kompartemen (a) dan kompartemen (b), dan tiap kompartemen diisi oleh seekor ikan Betta splendens yang telah diidentifikasi ciri-cirinya dan jika memungkinkan diberi penandaan pada bagian toraks telebih dahulu. Beri penamaan untuk setiap individu (misalnya individu (a), individu b), individu (c), dst) berdasarkan ciri-ciri yang sudah dikenali. Ukur pula masing-masing luasan kedua kompartemen.
3.      Pengamatan I
Pada salah satu kompartemen yang berisi cermin (misalnya kompartemen (a)), amati perilaku individu Betta splendens (a) dan catat semua perilaku yang tampak saat individu ikan (a) tersebut melihat bayangannya sendiri di dalam cermin. Lakukan pengamatan I selama ± 10 menit. Setelah selesai, lakukan hal yang sama dengan individu ikan (b) yang berada dalam kompartemen (b) dengan cara membalikkan cermin kearah kompartemen (b) selama 10 menit.
4.      Pengamatan II
Setelah pengamatan I selesai, angkat dinding pemisah/cermin dari aquarium. Saat cermin diangkat dan tidak ada lagi pembatas diantara kedua kompartemen (a) dan (b) catatlah waktunya sebagai waktu ke-0 (t = 0). Lakukan pengamatan segera setelah waktu ke-0 tersebut terhadap perkelahian sebenarnya diantara kedua individu cupang selama 15 menit. Catat dan hitung semua perilaku yang tampak (frekuensi pemunculan untuk tiap perilaku yang berbeda).
5.      Pengamatan III
Angkat individu cupang (a) dan (b) dari aquarium, kemudian masing-masing ikan disimpan dalam botol kaca kecil untuk diistirahatkan. Ulangi pengamatan I (percobaan pada cermin) pada individu ikan cupang lainnya, individu (c) dan (d) masing-masing selama 10 menit.
6.      Pengamatan IV
Ulangi pengamatan II (percobaan perilaku antagonistik) pada individu cupang lainnya yaitu individu ikan (c) dan ikan (d).
7.      Pengamatan V
Angkat kembali individu cupang (c) dan (d) dari aquarium, kemudian masing-masing ikan disimpan dalam botol kaca kecil untuk diistirahatkan selama 15 menit. Setelah itu lakukan pengamatan perilaku antagonistik antara dua ikan cupang dominan hasil pengamatan pertarungan I dan II selama 15 menit.
8.      Pengamatan VI
Angkat kembali kedua individu cupang pada pengamatan V dari aquarium, kemudian masing-masing ikan disimpan dalam botol kaca kecil untuk diistirahatkan kembali. Setelah itu lakukan pengamatan perilaku agonistik antara dua ikan cupang submissive/subordinat hasil pengamatan pertarungan I dan II selama 15 menit.







BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini mengenai perilaku agonistic dari ikan cupang (Betta splendens) kami menggunakan 4 ikan cupang sebagai sampel uji. 2 ikan cupang adu dan juga 2 ikan cupang hias dan kami mengamati morfologinya dengan mengidentifikasi bagian sirip dada, sirip perut, sirip ekor, warna tubuh, bentuk tubuh, sirip punggung dan bentuk mulut. Pada ikan cupang adu yang pertama warna tubuhnya berwarna biru, warna siripnya juga biru, warna ekornya kemerahan dan bentuk siripnya lebih pendek dari cupang hias. Pada ikan cupang adu yang kedua warna dasar pada tubuhnya warna biru kemerahan, warna siripnya kehitaman, warna ekornya kehitaman dan bentuk dari siripnya lebih pendek daripada cupang hias. Pada cupang hias yang pertama warna dasarnya biru cerah dan memiliki warna sirip merah dan warna ekor yang merah juga, bentuk siripnya lebih panjang dan lebar bila dibandingkan dengan ikan cupang adu. Pada ikan cupang hias yang kedua warna dasar dari ikan cupang adalah biru sama dengan ikan cupang hias yang kedua, hanya saja warna sirip ikan hias ini berwarna biru.

Description: 20131126_160831.jpg

Description: 20131126_161756.jpg
Ikan Cupang Adu 1
Ikan Cupang Adu 2

Description: 20131126_162003.jpg

Description: 20131126_161845.jpg
Ikan Cupang Hias 1
Ikan Cupang Hias 2

Ikan Betta splendens merupakan ikan yang memiliki banyak bentuk (Polimorphisme), seperti ekor bertipe mahkota crown tail, ekor penuh full tail dan bertipe slayer, dengan sirip panjang dan berwarna-warni. Keindahan bentuk sirip dan warna sangat menentukan nilai estetika dan nilai komersial ikan cupang Betta splendens Menurut Kottelat (1996) mengatakan bahwa penampakan warna pada jenis ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis kelamin, kematangan gonad, genetik dan faktor geografi. Ikan hias Betta splendens disebut juga ikan laga fighting fish atau ikan cupang. Ikan jantan memiliki warna mencolok, sirip panjang dan ukuran tubuh lebih kecil dibanding betinanya. Ikan Betta splendens jantan memiliki nilai komersial tinggi sehingga sangat disukai dan diburu oleh pecinta ikan hias. Salah satu kendala budidayanya adalah untuk mendapatkan ikan jantan cenderung lebih sukar, karena jumlah benih jantan yang diperoleh setiap pemijahan sangat rendah dan kualitasnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Agar produksi benih ikan sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang diharapkan, diperlukan informasi dan data tentang aspek biologi reproduksi ikan. Betta splendens atau yang lebih dikenal dengan  nama  ikan cupang. Ikan jantan sangat agresif dan memiliki kebiasaan  saling  menyerang  apabila ditempatkan  dalam satu wadah (Ostrow, 1989).
Menurut (Efendi, 1997) ciri khusus ikan cupang (Betta splendens) dapat dilihat dari beberapa bentuk tubuhnya seperti bentuk badan memanjang dan warna yang beraneka ragam yakni cokelat, hijau, merah, biru, kuning, abu-abu, putih dan sebagainya, sirip punggung lebar dan terentang hingga ke belakang dengan warna cokelat kemerah-merahan dan dihiasi garis-garis berwarna-warni, sirip ekor berbentuk agak bulat dan berwarna seperti badannya serta dihiasi strip berwarna hijau, sirip perut panjang mengumbai dihiasi aneka warna dan lehernya berdasi dengan warna yang indah, ujung siripnya sering kali dihiasi warna putih susu, sirip analnya berwarna hijau kebiru-biruan dan memanjang. Lebih lanjut dikemukakannya adalah ikan cupang betina memiliki bentuk tubuh rata - rata lebih kecil daripada ikan cupang jantan. Ikan cupang jantan memiliki panjang tubuh dapat mencapai 5 – 9 cm, sedangkan ikan cupang betina lebih pendek dari ukuran tersebut.
Daya tarik lain dari ikan cupang adalah keindahan warna dan sirip-siripnya, terutama ikan cupang jantan. Ikan ini juga senang berkelahi terhadap sesamanya sehingga di juluki “fighting fish”, tetapi bersikap toleran terhadap ikan jenis lain. Toleransi ikan cupang terhadap temperatur berkisar 28o C. Pertumbuhan ikan cupang relatif cepat sehingga masa pembesarannya tidak terlalu lama (Perkasa, 2001). Ikan cupang adu (Betta spendens) merupakan anggota dari famili Anabantidae. Anabantidae merupakan satu-satunya famili yang mencakup seluruh ikan berlabirin.  Betta splendens memiliki tubuh yang lonjong dengan bagian depan sedikit membulat dan memipih pada bagian belakang. Mulutnya dapat disembulkan dengan lubang mulut terletak serong pada bagian depan kepala. Badan dan kepala bersisik kasar. Ikan betina berwarna kusam, tetapi ikan jantan mempunyai warna metalik yang mengkilat. Ikan cupang jantan maupun betina memiliki sisik gurat sisi berjumlah 29-33 keping (Djuanda, 1981).
Sumber : Picstopin.com
 
Berikut adalah klasifikasi ikan cupang adu (Betta spendens) adalah sebagai berikut :
Kingdom          : Animalia
Filum               : Chordata
Class                : Osteichthyes
Ordo                : Percomorphoidei
Famili              : Antibantidae
Genus              : Betta
Spesies            : Betta splendens

Setelah mengamati morfologi dari masing-masing ikan cupang, kami juga mengamati perilaku agonistic dari ikan cupang tersebut. Dan berikut adalah beberapa parameter perilaku agonistic capung yang diketahui antara lain : Approach (Ap), Bite, Chase (Ch), Frontal threat (FT), Side Threat (ST), Mouth to mouth contact (MC), Flight (Fl), Tail flagging (TF), Circle (Cl) dan Explore (Ex). Ke-10 perilaku ini wajib untuk dihafal agar lebih mudah untuk mengamati perilaku agonistic dari masing masing ikan cupang. Pengamatan yang pertama kali diamati adalah perilakunya menghadapi kaca yang ada dihadapannya. Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui apakah ia menganggap kaca tersebut musuhnya atau bukan.

Dependent Variable : Frekuensi




Source
Type III Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Corrected Model
3230.200a
12
269.183
4.332
.001
Intercept
1677.025
1
1677.025
26.988
.000
Individu
494.475
3
164.825
2.652
.069
Perilaku
2735.725
9
303.969
4.892
.001
Error
1677.775
27
62.140


Total
6585.000
40



Corrected Total
4907.975
39



R Squared = .658 (Adjusted R Squared = .506)


Berdasarkan tabel diatas didapatkan nilai signifikan dari individu yaitu 0,069. Nilai ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara satu individu dengan yang lain. Tidak adanya perbedaan yang nyata berarti ikan cupang A, B, C, D memiliki individu yang berbeda-beda seperti halnya dilihat segi morfologi warna, bentuk tubuh, warna sirip dan yang lain-lain. Menurut Kottelat (1996) mengatakan bahwa penampakan warna pada jenis ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis kelamin, kematangan gonad, genetik dan faktor geografi. Nilai signifikan yang kedua adalah nilai signifikasi dari perilaku ikan cupang. Nilai signifikasi dari perilaku ini adalah 0,001 yang menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar individu. Dimana perilaku-perilaku ikan cupang A, B, C dan D memiliki perilaku yang berbeda beda karena menurut (Campbell, 2003) bahwa Individu yang aggressive dan mampu menguasai area perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat dan lemah.



                              Grafik 1. Hubungan antara individu A, B, C dan D

Dari pengamatan grafik diatas didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa individu B terlihat memiliki keagresifan yang tinggi dan paling menonjol diantara yang lain, individu ini ditunjukkan dengan garis berwarna hijau. Individu B ini sering sekali melakukan Fight Treat, Side Treat dan Tail Flagging. Yang kedua adalah individu C yang terlihat hampir menyamai posisi dari individu B, individu C ini sangat sering melakukan Fight Treat, Side Treat dan Tail Flagging. Pada individu A terlihat yang paling sering dilakukan juga Fight Treat, Side Treat dan Tail Flagging. Pada individu yang terakhir yaitu individu D juga terlihat melakukan hal yang sama dengan individu A, B dan C yaitu Fight Treat, Side Treat dan Tail Flagging. Jika dilihat dari tingkat keagresifan individu B terlihat sangat agresif dibandingkan yang lain, terlihat angat seringnya ia menyerang lawan baik dari depan maupun dari samping dan juga sering sekali melakukan pengibasan pada ekornya. Perilaku agresif yang sering dilakukan oleh keempat ikan tersebut adalah tail flagging. Tail flagging adalah perilaku mengibaskan ekor, kecenderungan ikan cupang melakukan tail flagging (mengibaskan ekor), merupakan bentuk ketidak nyamanan terhadap situasi. Dan berusaha untuk mengusir sesuatu yang dianggap pengganggu (McGregor et al., 2001 ). Sekalipun individu yang lain juga melakukan hal sama, tetapi individu B ini terlihat sangat mewaspadai cermin sebagai musuhnya. Betta splendens jantan berjuang untuk mengklaim wilayah, atau untuk melindungi telur mereka atau keturunan dari pesaing jantan lain. Tapi pertempuran fisik selalu didahului oleh tampilan kadang-kadang disebut "flaring". Ketika dirangsang oleh penampilan ikan jantan saingan, seekor Betta splendens jantan akan menunjukkan beberapa jenis secara genetis ditentukan agresif gerakan (pola aksi tetap). Ikan akan mengibaskan sirip nya, bergidik tubuhnya, memperpanjang gill opercula dan membran, dan umumnya akan tampil jauh lebih besar dari ukuran biasanya. Betta splendens tidak mengenali diri mereka dalam cermin, dan akan menunjukan perilaku agresif, mengira refleksi mereka sebagai ikan jantan yang lain (Sheenan, 2010).

Grafik 2. Tabel hubungan perkelahian antara individu A dan individu B

Dari data grafik diatas terlihat perkelahian antara individu A dan individu B. dan pada perkelahian ini dimenangkan oleh individu B. Jika diamati pada individu B ini lebih cenderung menyerang, terlihat peristiwa chase sangat tinggi bila dibandingkan dengan individu A. Selain itu terlihat bahwa individu B cenderung lebih sering menyerang dari arah samping dan sering sekali melakukan Tail Flagging. Seperti yang kami tahu bahwa Tail flagging merupakan salah satu perilaku agresif dari ikan cupang terhadap musuhnya. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/subordinat) (Kikkawa & Thorne, 1974).
Grafik 2. Tabel hubungan perkelahian antara individu C dan individu D

Dari grafik diatas diketahui bahwa individu C cenderung lebih agresif bila dibandingkan dengan individu D. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku chase yang sangat tinggi pada individu C terhadap individu D, sedangkan pada individu D terlihat sangat tinggi perilaku flightnya atau melarikan diri. Pada individu C ini juga terdapat perilaku mengibaskan ekor yang sangat tinggi, hal ini terjadi karena ia menganggap musuhnya ini adalah ancaman besar baginya. Dan dapat disimpulkan bahwa individu C ini adalah individu yang agresif dan memenangkan perkelahian antar individu D.






Grafik 2. Tabel hubungan perkelahian antara individu B dan individu C

Dari hasil grafik diatas didapat bahwa individu B cenderung lebih agresif daripada individu C. Awalnya masing-masing individu hanya beberapa kali melakukan pendekatan masing-masing atau Approach. Tapi setelah itu pada peristiwa chase terlihat bahwa individu C lebih dominan daripada individu B, sejalan dengan itu individu B terlihat menghindar dan berlari menhindari individu C. pada peristiwa front treat kedua individu terlihat sama-sama menyerang walaupun sebelumnya individu B hanya menghindar jika dikejar oleh individu C tapi setelahnya mereka sama-sama menyerang, menyerang dari depan maupun dari belakang. Tetapi perilaku mengibaskan ekor yang paling banyak adalah pada individu C daripada individu B. yang diketahui bahwa perilaku mengibaskan ekor adalah salah satu perilaku agresif pada ikan cupang. Individu B merupakan individu yang agresif dan memenangkan perkelahian kali ini. Jika dibandingkan dengan perkelahian A dan B, individu B juga memenangkan perkelahian dan lebih agresif. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/subordinat) (Kikkawa & Thorne, 1974).

Grafik 2. Tabel hubungan perkelahian antara individu A dan individu D

Dilihat dari grafik diatas terlihat sangat jelas bahwa perilaku agresif dimiliki oleh individu A. Perkelahian ini dilakukan oelh individu yang mengalami kekalahan pada saat ronde pertama dan kami adu lagi. Ternyata individu A pemenangnya padahal pada saat ronde pertama individu D kalah, begitu juga dengan individu D. Awalnya individu A mendekati individu D tapi individu D tidak merespon, dan individu A pun mengejar dan meyerangnya dari depan juga dari samping. Terlihat perilaku melarikan diri dari individu D. Mungkin karena individu D ini adalah ikan cupang hias sedangkan individu A merupakan ikan cupang adu maka individu A memenangkan pertandingan. Selain itu individu D melakukan perilaku (Tail flagging) mengibaskan ekor dan  (circle) bergerak memutar arah setelah mendekati lawan. Dan artinya ikan cupang D memunculkan individu yang lemah (submissive/subordinat). Tail flagging adalah perilaku mengibaskan ekor, kecenderungan ikan cupang melakukan tail flagging (mengibaskan ekor), merupakan bentuk ketidak nyamanan terhadap situasi. Dan berusaha untuk mengusir sesuatu yang dianggap pengganggu (McGregor et al., 2001 ).
Kegemaran berkelahi Ikan cupang adu akan semakin memuncak apabila ikan cupang diletakkan di baskom, akuarium, toples, atau tempat pemeliharaan lain. Hal ini dikarenakan ikan cupang telah terbiasa hidup di tempat yang lebih nyaman bila dibandingkan dengan selokan atau tempat lainnya. Ketika melakukan pertarungan, ikan cupang jantan menghampiri lawan tandingnya. Kemudian ikan cupang jantan mempertontonkan sirip pada musuhnya. Sirip yang semula terlihat lemas dalam hitungan detik akan mengembang  (Gouveia, 2007).



























BAB V
KESIMPULAN
           Dilihat dari morfologi keempat ikan cupang tersebut, ikan C dan D termasuk ikan hias karena mempuyai keindahan bentuk sirip dan warna. Sedangkan ikan cupang A dan B termasuk ikan cupang adu. Ikan cupang B lebih agresif dibandingkan ikan cupang yang lain, sehingga bisa menguasai perkelahian. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/subordinat) (Kikkawa & Thorne, 1974).
           
DAFTAR PUSTAKA
Afandi, R. & Tang, U.M. 2000. Biologi Reproduksi Ikan. Laporan. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kawasan Pantai dan Perairan
Campbell, N. A., Reece J.B, Mitchell LG.dkk. 2003. Biologi .Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Djuanda, T. 2002. Dunia Ikan. Penerbit Armico. Bandung   
Efendi, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Pustaka Nusantara
Gouveia, A., Caio M. de Oliveira, Cynthia F. R., Thiago M de Brito, Dora F.V. 2007. Effects Trophic Poisoning With Methylmercury On The Appetitive Elements Of The Agonistic Sequence In Fighting-Fish (Betta Splendens). Spanish Journal of Psychology. Vol 10: 436-448.
Jumilawaty, 2001. Perilaku Harian Pecuk Hitam (Phalacrocorax sulcirostis) Saat Musim Berbiak Di Suaka Margasatwa Pulau Rambut Jakarta. Jurnal Biologi Sumatera. Padang Bulan, Medan. Vol. 1, No. 1. , hlm. 20 – 23
Kikkawa, J. & M. J. Thorne. 1974. The Behaviour of Animals. John Murray (Publishers) LTD. London.
Klein, R.M., Figler, M.H., & Peeke, H.V.S. 1976. Modification of consummatory (attack) behavior resulting from pior habituation of appetitive (threat) components of the agonistic sequence in male Betta splendens (Pisces, Belontiidae). Animal Behaviour. Vol 58: 1-25.
Kottelat, Whitten, J.A., Wirjoatmodjo, S. & Kartikasari.1996. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus. Jakarta.
Linke, H . 1994. Eksplorasi Ikan Cupang di Kalirnantan. Trubus. No.297. Agustus. hal 86-89.
Mc Gregor P. K., Tom M.P & Helene M.L. 2001. Fighting Fish Betta splendens Extract Relative Information From Apparent Interactions: What Happens When What You See Is Not What You Get. Animal Behaviour. Vol 62: 1059-1065.
Ostrow, M.E. 1989. Bettas.T.F.H. Publications Inc. United State.
Perkasa, B.E. 2001. Budidaya Cupang Hias dan Adu. Jakarta: Penebar Swadaya
Sanford, G. 1995. An Illustrated Encylopedia of Aquarium fish. Apple Press. London. hal 68.
Scott, J.P. 1969. Introduction to Animal Behaviour. In : The Behaviour of  Domestic Animals. E.S.E. Hafez (ed). The Williams & Wilkins Co. Baltimore, USA. p 31-21.
Sheenan, F. 2010. Betta Behavior. Available at http://www.bettatalk.com/betta_behavior.htm
Sugandy, I. 2002. Budidaya Cupang Hias. Jakarta: Argo Media Pustaka.
Susanto, H. & Lingga, P. 1997. Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta.

LAMPIRAN
Tabel 1. Tabel Pengamatan ikan cupang selama 5 menit

Individu
Perilaku
A
B
C
FT
ST
M
F
TF
C
E
A
3
-
-
21
5
-
-
23
-
1
B
1
-
-
40
16
-
-
45
-
2
C
4
-
-
21
14
-
-
25
17
8
D
1
-
-
-
-
-
-
1
6
5

Tabel 2. Tabel hasil berkelahi ikan cupang A dan B

Individu
Perilaku
A
B
C
FT
ST
M
F
TF
C
E
A
1
-
-
2
2
-
25
5
4
2
B*M
1
-
18
1
6
-
-
28
4
8

Tabel 2. Tabel hasil berkelahi ikan cupang C dan D

Individu
Perilaku
A
B
C
FT
ST
M
F
TF
C
E
C*M
5
-
18
-
2
-
-
25
10
6
D
1
-
-
-
-
-
21
15
11
1

Tabel 2. Tabel hasil berkelahi ikan cupang B dan C

Individu
Perilaku
A
B
C
FT
ST
M
F
TF
C
E
B
2
6
-
12
31
1
8
48
2
1
C*M
1
2
12
6
32
3
-
31
4
-

Tabel 2. Tabel hasil berkelahi ikan cupang A dan D

Individu
Perilaku
A
B
C
FT
ST
M
F
TF
C
E
A*M
6
-
1
3
-
-
-
16
8
6
D
1
-
-
-
-
-
21
15
11
1


Ket : *Menang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar