LAPORAN
PRAKTIKUM BIOLOGI PERILAKU
PREFERENSI SUHU BLACK-MOLLY DAN GUPPY (Poecillia spp)

Disusun
oleh :
Nama : Fifin
Nurcholis
NIM :
1211702026
Dosen : Ucu Julita M,Si
Asisten :
Dewi Yulinda
Tanggal Praktikum :
28 Oktober 2013
Tanggal
Laporan : 6 November 2013
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti
tidak menghasilkan panas tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau
menyesuaikan suhu lingkungan sekelilingnya (Hoole et al., dalam Tunas, 2005). Sebagai hewan air, ikan memiliki
beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan
habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi
lingkungan (Yushinta, 2004). Secara kesuluruhan ikan lebih toleran terhadap
perubahan suhu air, beberapa species mampu hidup pada suhu air mencapai 29oC,
sedangkan jenis lain dapat hidup pada suhu airyang sangat dingin, akan tetapi
kisaran toleransi individual terhadap suhu umumnya terbatas (Sukiya, 2005).
Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami
kenaikan kecepatan respirasi (Kanisius, 1992).
Guppy (Poecilia reticulata, Peters 1860) merupakan ikan hias yang
mempunyai nilai komersil tinggi baik untuk pasar dalam negeri maupun luar
negeri. Variasi warna yang menarik dan corak sirip yang beragam, sehingga guppy
banyak diminati dan memiliki nilai penjualan sekitar 25% dari pasar dunia
(Huwoyon dkk., 2008). Berdasarkan morfologisnya, guppy jantan memiliki bentuk
tubuh yang lebih ramping dengan corak warna tubuh dan sirip yang lebih
cemerlang dari pada guppy betina, sehingga permintaan guppy jantan lebih banyak
dari pada guppy betina. Sirip dubur pada ikan jantan mengalami perubahan
menjadi gonopodium, yang berfungsi untuk mengeluarkan sperma yang akan masuk
pada tubuh ikan betina. Gupi betina memiliki kemampuan untuk untuk menyimpan
sperma, sehingga dapat hamil berulang kali dengan hanya satu kali kawin.
Faktor kunci keberhasilan yang lainnya adalah kemampuannya untuk
menyesuaikan hidup dengan berbagai kondisi perairan, dengan variasi makanan
yang beragam. Analisis terhadap isi perut gupi yang hidup di Danau Buyan, Bali,
menunjukkan bahwa ikan ini terutama memakan zooplankton yang melimpah di sana.
Sementara gupi yang hidup di Danau Bratan dan Batur kebanyakan mengandalkan
bahan-bahan organik yang berada di dasar danau. Gupi bahkan dapat hidup pada
perairan dengan salinitas tinggi (air asin), hingga 150% salinitas normal air
laut (Green, 1978).
1.2 Tujuan
Untuk
mengetahui preferensi suhu ikan guppy (Poecillia reticulate) terhadap suhu air yang berbeda.
1.3 Hipotesis
Perilaku ikan guppy (Poecillia
reticulate) akan berubah seiring dengan adanya perubahan suhu disekitarnya.
Dan ia akan memilih tempat dimana ia tinggal sesuai dengan tingkat suhu yang
ada.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Keberhasilan suatu organisme
untuk bertahan hidup dan bereproduksi mencerminkan keseluruhan toleransinya
terhadap seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi organisme tersebut
Artinya bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi
lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dantingkah
laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan
dalam pengaturan homeostatis yang diperlukan. bagi pertumbuhan dan reproduksi
biota perairan (Tunas, 2005).
Suhu merupakan faktor
penting dalam ekosistem perairan (Ewusie, 1990). Kenaikan suhu air dapat akan menimbulkan
kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu (Aprianto dan Liviawati, 1992).
Menurut Soetjipta (1993), air memiliki beberapa sifat termal yang unik,
sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat dari pada udara.
Selanjutnya Soetjipta menambahkan bahwa walaupun suhu kurang mudah berubah di
dalam air daripadadi udara, namun suhu merupakan faktor pembatas utama. Oleh
karena itu, mahluk akuatik sering memiliki toleransi yang sempit.
Menurut Laevastu dan Hela (1970),
pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti
pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan renang,
serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling
jelas terlihat selama pemijahan. Suhu air laut dapat mempercepat atau
memperlambat mulainya pemijahan pada beberapa jenis ikan. Suhu air dan arus
selama dan setelah pemijahan adalah faktor-faktor yang paling penting yang
menentukan “kekuatan keturunan” dan daya tahan larva pada spesies-spesies ikan
yang paling penting secara komersil. Suhu ekstrim pada daerah pemijahan
(spawning ground) selama musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk memijah di
daerah lain daripada di daerah tersebut. Nybakken
(1988), sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh
dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang sangat
penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme.
Terdapat pula zona peralihan antara
daerah-daerah ini, tetapi tidak mutlak karena pembatasannya dapat agak berubah
sesuai dengan musim. Organisme perairan seperti ikan maupun udang mampu hidup
baik pada kisaran suhu 20-30°C. Perubahan suhu di bawah 20°C atau di atas 30°C
menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya daya
cerna (Trubus, 2005).
Poecilia reticulata memiliki
toleransi ekologi yang luas : eurythermal, euryhaline dan hipoksia
toleran. Poecilia reticulata dapat bertahan hidup pada suhu air sampai 32°C
(Gibson, 1954), dengan toleransi terbatas pada suhu yang lebih tinggi hingga
36°C (Arai et al., 1963). Spesies dapat bereproduksi dengan kekuatan penuh di air
laut (35ppt) (Shikano dan Fujio 1997) dan mentolerir salinitas sampai dengan
58.5ppt (Chervinski 1984). Ikan ini dapat mentolerir oksigen tingkat rendah turun
hingga 0,5 mg / l dengan respirasi dari permukaan air (ASR) (Kramer dan Mehegan,
1981). Ikan guppy dapat beradaptasi dalam air dengan pH 7,0-8,0 (idealnya), kedalaman 10 dH atau
lebih, baik di air payau, air tawar, dan jika menyesuaikan diri dengan benar,
dapat disimpan dalam kondisi air asin juga. Dan dengan suhu 18-28°C (Scott,
1999).
Ikan guppy merupakan hewan
ovovivipar dan kawin secara poligami dengan fertilisasi internal, ikan jantan
bebas memilih betina dan betina selektif dalam memilih pasangan mereka. Poecilia reticulate jantan memiliki
sirip dubur yang diubah menjadi sebuah gonopodium untuk fertilisasi internal. Ikan
jantan yang terus menerus mengejar dan mengawini betina, meskipun betina
selektif terhadap pasangan mereka (Viken et
al., 2006.). Penelitian telah menunjukkan bahwa ikan betina memilih
laki-laki, terutama mereka yang lebih besar dan lebih terang atau orange spot
(Karino, et al. 2005), sedangkan
Millar et al. (2006) menunjukkan
bahwa tekanan predasi juga merupakan faktor seleksi yang kuat dalam variasi
warna pada ikan jantan, dan mempengaruhi pemilihan pasangan (Reynolds dan Gross,
1992), hal itu merupakan suatu kompromi antara pemilihan seksual (yang jelasan
menguntungkan) dan seleksi alam.
BAB
III
METODE
KERJA
3.1 Alat dan Bahan
Dalam praktikum kali ini kami menggunakan 10
ekor guppy (Poecillia reticulate) dan 10 ekor black-molly (Poecillia
mollienisia) yang digunakan sebagai sampel uji. Lalu kami menggunakan air
bersih untuk sarana praktikum yang akan ditempatkan pada kanal pengamatan
preferensi suhu. Kanal ini berfungsi sebagai tempat pengamatan ikan ikan
terhadap preferensi suhu yang terdapat didalamnya. Lalu sebagai bahan agar
mencapai suhu >15o kami
menggunakan es batu sedangkan untuk dapat mencapai suhu <30o kami
menggunakan alat pemanas yaitu Bunsen, Dipakai korek api untuk memijarkan api
pada Bunsen. Lalu pada setiap zona kami letakkan thermometer sebagai pengukur
suhu setiap zonanya dan digunakan alat penghitung berupa stopwatch.
3.2 Cara Kerja
1.
Pengamatan morfologi Poecillia sp.
Ø Sebagai
obyek penelitian perilaku preferensi suhu digunakan 10 ekor ikan black-molly
atau ikan guppy. Jaring kecil dibutuhkan untuk memindahkan ikan.
Ø ambil seekor Poecillia dan
amatilah morfologinya melalui mikroskop stereo dan catatlah bagian tubuh
ventral.
2.
Penyusunan kotak kanal pengamatan
Ø Susun
dan siapkan kotak kanal pengamatan preferensi suhu. Kotak ini memiliki ruang di
kedua ujungnya untuk menaruh es dan tempat memanaskan air dengan menggunakan
pembakar Bunsen.
Ø Isi
kotak kanal dengan air ledeng yang bersih.
Ø Kotak
kanal dibagi menjadi lima zona dengan panjang masing-masing bagian sekitar 10
cm.
Ø Sebagai
alat pengukur suhu, gunakan termometer raksa sebanyak 5 buah dan simpan satu
buah di setiap zona dengan cara digantungkan pada penyangga yang dirangkaikan
pada kanal.
3. Pengamatan
perilaku preferensi suhu
Ø Masukkanlah
10 ekor Poecillia ke dalam kotak kanal pengamatan suhu yang sebelumnya
telah disusun.
Ø Mula-mula,
kanal dirangkai seperti pada tahap 2. Kotak percobaan diisi air secukupnya
sehingga ikan yang dimasukkan ke dalamnya dapat berenang bebas. Ikan diberi
waktu 10-15 menit untuk menyesuaikan diri (habituasi). Saat habituasi tersebut,
catat pada zona mana ikan berada.
Ø Masukkan
es ke salah satu ujung kanal dan pembakar Bunsen di ujung lainnya. Waktu t0 dihitung
mulai ketika es sudah dimasukkan ke satu sisi dan pembakar Bunsen dinyalakan di
sisi lainnya.
Ø Setiap
interval waktu 10 menit, banyaknya ikan di setiap zona suhu dihiting dan
perubahan suhu pada zona tersebut dicatat. Penghitungan dalam satu interval waktu
(10 menit) dilakukan sebanyak lima kali pengulangan (berarti penghitungan
dilakukan setiap 2 menit sekali).
Ø Penghitungan
dan pencatatan dilakukan sebanyak 5 interval waktu, yaitu selama 50 menit.
Jadi, jumlah total data untuk setiap kelompok pengamatan adalah 25 buah (5
interval waktu dikalikan 5 pengulangan).
4. Lakukan
pengolahan statistik menggunakan analisis variansi (ANOVA) untuk menguji
hipotesis mengenai ada atau tidaknya perbedaan rataaan untuk setiap zona suhu!
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
·
Hasil pengamatan morfologi





Gambar 1. Ikan guppy (Poecillia reticulate)
(Sumber : Dokumen Pribadi)
Pada hasil pengamatan diatas terlihat beberapa bagian dari ikan guppy (Poecillia
reticulate). Matanya berwarna hitam, ada sirip perut yang berwarna putih
keperak-perakan, sirip punggung yang warnanya sama dengan sirip perut, operculum
yang berwarna perak dan ekor yang berwarna hitam keorangean. Guppy dibagi
berdasarkan bentuk ekornya yaitu wide tail (ekor lebar), sword tail (ekor panjang),
dan short tail (ekor pendek). Warna dasar pada tubuhnya sendiri adalah perak dan
ada beberapa warna hitam dan kehijauan.



Mata operkulum sirip perut ekor sirip punggung
Gambar 2. Ikan guppy (Poecillia reticulate)
(Sumber : Ittiofauna, 2008)
Adapun klasifikasi dari
ikan guppy ini yaitu :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cyprinodontiformes
Famili : Poeciliidae
Genus : Poecilia
Spesies : Poecillia reticulate
Guppy atau ikan Cere (Poecilia reticulata) termasuk dalam Ikan Hias air tawar, Jenis ikan ini sangat mudah dalam
penyesuaian diri terhadap lingkungan dan sangat mudah untuk berkembang biak,
sehingga pertumbuhannya sangat cepat. Untuk membedakan jenis kelamin jantan dan
betina dari jenis ikan Guppy ini sangatlah mudah, dari ukuran bentuknya jenis
Guppy betina cendrung lebih besar ukurannya dibandingkan dengan jenis Guppy
pejantan, Guppy betina ukurannya bisa sampai 4-6 cm bahkan lebih dengan
perut gendut berwarna putih bening, sedang Guppy pejantan sekitar 2½–3½ cm dengan
tubuh ramping penuh corak warna. Dari segi warna, Pejantan Guppy cendrung lebih
indah corak warnanya dibandingkan dengan jenis Guppy betina, Corak warna ikan
Guppy pejantan yang lebih cemerlang dan warnanya bervariasi inilah yang membuat
menarik kita untuk memelihara dan menjadikan ikan Guppy sebagai salah satu ikan
hias.

Dilihat
dari grafik diatas yang menunjukkan hasil dari ke-5 zona yang ada sebagai
perbandingan preferensi suhu ikan guppy (Poecilia reticulata).
Hasil ini memperlihatkan bahwa ikan guppy lebih menyukai suhu hangat daripada
suhu dingin. Poecilia reticulata dapat bertahan hidup pada suhu air sampai 32°C
(Gibson, 1954), dengan toleransi terbatas pada suhu yang lebih tinggi hingga
36°C (Arai et al., 1963). Hal ini kemungkinan
karena kurangnya oksigen pada lingkungan tersebut. Disaat suhu dingin maka
oksigen akan semakin berkurang, apalagi dengan jumlah individu yang tidak
sedikit pada satu lingkungan tersebut. Apalagi jika suhu ekstrim, entah itu
ekstrim dingin atau panas sesuai dengan itu oksigen akan semakin berkurang. Seperti
menurut Irwan (2001) Makin tinggi suhu maka, makin sedikit oksigen dapat larut.
Suhu air sangat berperan untuk kenyamanan ikan (Nasution dan Supranoto, 2001). Ikan
ini sangat mudah beradaptasi dan memiliki toleransi yang baik dalam berbagai
kondisi lingkungan tempat hidupnya. Kemungkinan kedua adalah adanya tekanan
dari pihak praktikan saat melakukan praktikum ini. Guncangan-guncangan pada
meja praktikum atau kemunculan kami secara tiba-tiba yang membuat mereka kaget
dan kemudian malah berpindah dari satu tempat ke tempat yang menurut mereka
aman.

Grafik
diatas menunjukkan bahwa ikan guppy lebih menyukai suhu dingin dibandingkan suhu
hangat. Pada zona 1 yang memiliki suhu sekitar 24oc terdapat sekitar
25.6
ikan, pada zona 2 dengan suhu sekitar 25oc terdapat ikan sebanyak
25,7. Pada zona 3 dengan suhu 26oc terdapat ikan sebanyak 25,6, pada
zona 4 yang memiliki suhu sekitar 27o c terdapat ikan sebanyak 25,6
sedangkan pada zona 5 dengan suhu 28oc terdapat ikan sebanyak 25,6. Seperti
yang tadi dikatakan bahwa kemungkinan terbesar adanya ketidakseimbangan data
hasil grafik diatas dengan yang dibawah adalah faktor praktikan. Karena
praktikan yang terlalu berisik dan menganggu gerak dari si ikan tersebut. Maka
ia akan berpindah, umumnya ikan akan lebih menyukai suhu yang hangat daripada
yang dingin. Menurut Dumairy (1992) dalam Mulyadi (1999), suhu
air dapat mengatur kegiatannya serta merangsang atau menekan pertumbuhan
dan perkembangannya. Air yang hangat pada umumnya akan memacu metabolisme,
sedangkan air yang yang relatif dingin pada umumnya akan mengendurkan aktivitas
organisme air.
Atau
mungkin karena ikan-ikan ini stress dan menjadi sulit untuk menemukan
sebenarnya suhu mana yang membuatnya paling nyaman. Menurut Arinardi (1989)
dalam Mulyadi (1999) yang menyatakan bahwa kenaikan temperature 2-3oC akan
mengakibatkan organisme perairan mengalami stress. Suhu rendah akan mengurangi
imunitas (kekebalan tubuh) ikan, sedangkan suhu tinggi akan mempercepat ikan
terkena infeksi bakteri. Pengaruh aklimatisasi atau adaptasi dapat ditoleransi
oleh ikan tertentu. Penurunan atau kenaikan suhu yang terjadi perlahan-lahan
tidak akan terlalu membahayakan ikan. Sementara perubahan yang terjadi secara
tiba-tiba akan membuat ikan stress. Akibatnya, ikan menjadi stres, tidak ada
keseimbangan dan menurun sistem sarafnya (Lesmana, 2002).
Setelah
didapat hasil diatas kami memasukkan datanya kedalam uji anova, tukey dan Duncan.
Hasilnya didapat nilai signifikan pada uji ANOVA dengan parameter setiap zona
yaitu 1.0
yang menunjukkan bahwa nilainya >0,05, hal ini mengindikasikan bahwa tidak
ada perbedaan yang nyata pada setiap zona yang diamati. Setelah itu dilanjutkan
dengan uji Tukey dan uji Duncan dan dihasilkan bahwa perbedaan
kelompok dapat dilihat dari nilai harmonic mean yang dihasilkan dari setiap
kelompok berada dalam kolom subset yang sama atau berbeda. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
kelima zona tidak memiliki perbedaan yang nyata.
Selanjutnya
uji ANOVA yang kedua dengan parameter suhu pada setiap zona yang kemarin
diamati. Terdapat nilai signifikan 0.904, jika dihasilkan nilai signifikan seperti
itu diketahui bahwa ini >0,05 yang berarti tidak ada perbedaan yang nyata
yang terjadi pada suhu dari setiap zona. Pada uji Tukey dan Duncan menunjukan
bahwa perbedaan kelompok dapat dilihat dari nilai harmonic mean yang dihasilkan
dari setiap kelompok berada dalam kolom subset yang sama atau berbeda. Hal
tersebut mengindikasikan bahwa kelima zona tidak memiliki perbedaan yang nyata.
BAB V
KESIMPULAN
Dapat
disimpulkan bahwa ikan guppy (Poecilia reticulata)
lebih senang pada suhu yang hangat bila dibandingkan dengan suhu dingin. Hal
ini kemungkinan karena kurangnya oksigen pada lingkungan tersebut. Disaat suhu
dingin maka oksigen akan semakin berkurang, apalagi dengan jumlah individu yang
tidak sedikit pada satu lingkungan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E dan Evi
Liviawaty. 1992.
Pengendalian Hama Dan Penyakit Ikan.
Cetakan I. Yogyakarta. Kanisius.
Arai M.N., Cox E.T. and Fry F.E.J. 1963. An
effect of dilutions of seawater on the lethal temperature of the guppy. Canadian Journal of Zoology. Vol 41:
1101-1115.
Arinardi, O. H. 1989. Pengaruh Curah Hujan
Terhadap Pertumbuhan Fitoplankton di Teluk Jakarta Pada Tahun
1978. dalam Penelitian Oseanologi Perairan Indonesia Buku I : Biologi, Geologi, Lingkungan &
Oseanologi. LIPI. Jakarta Cech (2005) dalam Cordova (2008).
Chervinski J., 1984. Salinity tolerance of
the guppy, Poecilia reticulata
Peters. Journal of Fish Biology. Vol 24(4):
449-452.
Ewusie, J.Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Bandung. Penerbit Institut Teknologi
Bandung.
Gibson M.B. 1954. Upper lethal temperature
relations of the guppy, Lebistes
reticulatus. Canadian Journal of
Zoology. Vol 32: 393-407.
Green,
J., S.A. Corbett, E. Watts, and B.L. Oey. 1978. Ecological studies on
Indonesian lakes : The montane lakes of Bali. J. Zool. 186:15-38
Karino K., Utagawa T. and Shinjo S. 2005.
Heritability of the algal-foraging ability: an indirect benefit of female mate
preference for males' carotenoid-based coloration in the guppy, Poecilia reticulata . Behavioural
Ecology and Sociobiology. Vol 59(1): 1-5.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari, S. Wirjoatmodjo. 1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian
Barat dan Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd. dan Proyek EMDI KMNKLH
Jakarta. hal 126-127.
Laevastu, T. dan
Hayes, M.L. 1981. Fisheries Oceanography
and Ecology. New York. Fishering News Book Ltd.
Lesmana Darti S. 2002. Kualitas Air untuk Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis.
Jakarta. Gramedia.
Reynolds J.D. and Gross M.R., 1992. Female
mate preference enhances offspring growth and reproduction in a fish Poecilia reticulata. Proceedings of the Royal Society London B.
Vol 250: 57-62.
Scott, P. 1999. Livebearing Fishes (Fishkeeper's Guides).
USA. Interpet Publishing.
Shikano T. and Fujio Y. 1997. Successful
propagation in seawater of the guppy Poecilia
reticulate with reference to high salinity tolerance at birth. Fisheries Science (Tokyo). Vol 63(4):
573-575.
Soetjipta. 1993.
Dasar-dasar Ekologi Hewan. Yogyakarta.
Depdikbud Dirjen Dikti.
Sukiya. 2005.
Biologi Vertebrata. Malang.
Universitas Negeri Malang.
Trubus. “Pembudidayaan
Artemia Untuk Pakan Udang & Ikan”. Trubus Edisi 425, April, 2005, h. 207.
LAMPIRAN
|
Waktu
(tiap 10 menit)
|
Zona
1
|
Zona
2
|
Zona
3
|
Zona
4
|
Zona
5
|
||||||
|
toC
|
∑
ikan
|
toC
|
∑
ikan
|
toC
|
∑
ikan
|
toC
|
∑
ikan
|
toC
|
∑
ikan
|
||
|
(1)
10’
|
1
|
26o
|
0
|
24 o
|
1
|
26 o
|
4
|
27 o
|
2
|
29 o
|
5
|
|
2
|
25o
|
0
|
23 o
|
1
|
26 o
|
6
|
27 o
|
5
|
29 o
|
0
|
|
|
3
|
25o
|
7
|
23 o
|
0
|
25 o
|
0
|
27 o
|
0
|
29 o
|
5
|
|
|
4
|
25o
|
2
|
23 o
|
2
|
24 o
|
0
|
26 o
|
3
|
28 o
|
5
|
|
|
5
|
25o
|
3
|
23 o
|
0
|
25 o
|
4
|
25 o
|
0
|
28 o
|
5
|
|
|
(2)
10’
|
1
|
25o
|
2
|
23 o
|
3
|
25 o
|
0
|
25 o
|
0
|
28 o
|
7
|
|
2
|
25o
|
0
|
23 o
|
0
|
25 o
|
2
|
25 o
|
5
|
28 o
|
5
|
|
|
3
|
25o
|
0
|
24 o
|
0
|
25o
|
0
|
25 o
|
0
|
28 o
|
12
|
|
|
4
|
24o
|
0
|
23 o
|
0
|
25 o
|
0
|
26 o
|
0
|
27,5 o
|
12
|
|
|
5
|
24o
|
0
|
23 o
|
1
|
25 o
|
2
|
25 o
|
0
|
27,5 o
|
3
|
|
|
(3)
10’
|
1
|
24o
|
0
|
23 o
|
0
|
25 o
|
0
|
25 o
|
2
|
28 o
|
10
|
|
2
|
24o
|
1
|
24 o
|
0
|
25 o
|
4
|
25 o
|
2
|
28 o
|
5
|
|
|
3
|
24o
|
0
|
23 o
|
5
|
25 o
|
0
|
25 o
|
2
|
28 o
|
5
|
|
|
4
|
24o
|
0
|
23 o
|
0
|
25 o
|
8
|
25 o
|
1
|
28 o
|
3
|
|
|
5
|
25o
|
12
|
24 o
|
0
|
25 o
|
0
|
25 o
|
0
|
28 o
|
0
|
|
|
(4)
10’
|
1
|
24o
|
1
|
23 o
|
4
|
25 o
|
7
|
25 o
|
0
|
28,5 o
|
0
|
|
2
|
25o
|
1
|
24 o
|
7
|
26 o
|
0
|
26 o
|
0
|
28 o
|
4
|
|
|
3
|
25o
|
0
|
24 o
|
3
|
25 o
|
5
|
26 o
|
1
|
28 o
|
3
|
|
|
4
|
25o
|
3
|
24 o
|
4
|
25 o
|
1
|
25 o
|
4
|
28 o
|
0
|
|
|
5
|
25o
|
0
|
24,5 o
|
0
|
25 o
|
0
|
26 o
|
7
|
28 o
|
5
|
|
|
(5)
10’
|
1
|
25o
|
0
|
25 o
|
6
|
27 o
|
6
|
26 o
|
0
|
28 o
|
0
|
|
2
|
25o
|
2
|
25 o
|
10
|
26 o
|
0
|
26 o
|
0
|
28.5 o
|
0
|
|
|
3
|
25o
|
0
|
25 o
|
0
|
26 o
|
0
|
26 o
|
0
|
28 o
|
12
|
|
|
4
|
25o
|
0
|
25 o
|
0
|
26 o
|
3
|
26 o
|
3
|
28 o
|
6
|
|
|
5
|
25o
|
0
|
25 o
|
10
|
26 o
|
1
|
26 o
|
1
|
28 o
|
0
|
|
Tabel 1. Tabel pengamatan
setiap zona pada ikan guppy
|
|
|||||
|
ikan
|
|
|
|
|
|
|
|
Sum of Squares
|
df
|
Mean Square
|
F
|
Sig.
|
|
Between Groups
|
.474
|
4
|
.118
|
.012
|
1.000
|
|
Within Groups
|
1190.038
|
120
|
9.917
|
|
|
|
Total
|
1190.512
|
124
|
|
|
|
Tabel 2. Hasil data setiap
zona menggunakan uji ANOVA
|
|
|||
|
|
Ulangan
|
N
|
Subset for alpha = 0.05
|
|
|
1
|
||
|
Tukey hsda
|
4
|
24
|
2.2500
|
|
5
|
26
|
2.3077
|
|
|
1
|
25
|
2.4000
|
|
|
2
|
25
|
2.4000
|
|
|
3
|
25
|
2.4000
|
|
|
Sig.
|
|
1.000
|
|
|
Duncana
|
4
|
24
|
2.2500
|
|
5
|
26
|
2.3077
|
|
|
1
|
25
|
2.4000
|
|
|
2
|
25
|
2.4000
|
|
|
3
|
25
|
2.4000
|
|
|
Sig.
|
|
.884
|
|
|
Tabel 3. Hasil
data setiap zona menggunakan uji Tukey dan Duncan
|
|||
|
|
|||||
|
suhu
|
|
|
|
|
|
|
|
Sum of Squares
|
df
|
Mean Square
|
F
|
Sig.
|
|
Between Groups
|
2.657
|
4
|
.664
|
.259
|
.904
|
|
Within Groups
|
308.311
|
120
|
2.569
|
|
|
|
Total
|
310.968
|
124
|
|
|
|
Tabel 4.
Hasil data suhu ikan menggunakan uji ANOVA
|
|
|||
|
|
ulangan
|
N
|
Subset for alpha = 0.05
|
|
|
1
|
||
|
Tukey HSDa
|
4
|
24
|
25.2292
|
|
5
|
26
|
25.5385
|
|
|
3
|
25
|
25.5600
|
|
|
1
|
25
|
25.5800
|
|
|
2
|
25
|
25.6600
|
|
|
Sig.
|
|
.877
|
|
|
Duncana
|
4
|
24
|
25.2292
|
|
5
|
26
|
25.5385
|
|
|
3
|
25
|
25.5600
|
|
|
1
|
25
|
25.5800
|
|
|
2
|
25
|
25.6600
|
|
|
Sig.
|
|
.407
|
|
Tabel 5.
Hasil data suhu ikan menggunakan uji Tukey dan Duncan
terimakasih, sngat membantu,,,
BalasHapusSama sama . Senang dapat membantu...
BalasHapus